15
Apr
2011
Gerakan Bersih-Bersih Pesisir Pantai
Ditulis oleh A. Choliq Baya
RADAR BANYUWANGI - Saat masih tinggal dan bertugas di Kota Mojokerto, setiap Sabtu pagi saya selalu menyempatkan hunting dengan bersepeda gunung ke beberapa lokasi wisata, tempat kuliner, tempat produksi kerajinan, tempat-tempat bersejarah, maupun tempat menarik lainnya. Biasanya saya bersepeda bersama para tetangga dalam satu kompleks perumahan. Sebagian besar dari komunitas bersepeda kami adalah mantan pensiunan PNS dan BUMN. Ada juga yang masih menjabat pimpinan sebuah perusahaan asuransi, bank dan rektor sebuah perguruan tinggi. Tujuannya, selain untuk olah raga dan refreshing, juga ingin mengetahui lebih dekat tempat-tempat ‘’spesial’’ di daerah, termasuk kondisinya.Ketika saya pindah tugas ke Banyuwangi sejak awal tahun 2010, baru akhir pekan kemarin saya berkesempatan bersepeda keliling ke beberapa tempat. Maklum, setiap akhir pekan, saya lebih banyak berada di luar Banyuwangi sehingga kesempatan ini saya anggap agak langka. Meski demikian, saya tidak bisa menempuh jarak terlalu jauh. Mengingat, tidak ada teman yang mendampingi, sehingga sedikit mengurangi semangat saya. Berangkat pukul 5.30 WIB, pukul 08.00 WIB sudah tiba kembali di rumah dengan total jarak tempuh tidak sampai 20 km. Padahal, saat di Mojokerto biasanya berangkat pukul 6.30 WIB kembali di rumah sekitar pukul 10.30 WIB, terkadang sampai lebih dengan jarak tempuh rata-rata 40 km.
Meski jarak tempuhnya tidak sejauh yang biasa kami lakukan seperti saat di Mojokerto, minimal agenda gowes sepeda ini bisa mengobati rasa kangen saya. Sebab, sudah lama keinginan untuk kembali gowes sepeda ini saya idamkan dengan harapan ingin mengenal lebih dekat kondisi sosio kultural masyarakat Banyuwangi. Dan, alhamdulillah keinginan itu baru bisa terkabul minggu kemarin meski kondisi medan di sini lebih berat karena jalannya banyak naik turun.
Pengalaman pertama bersepeda di Banyuwangi saya manfaatkan untuk blusukan ke beberapa pantai yang berada di pesisir timur Kota Banyuwangi dengan melewati perkampungan. Mulai dari pantai Sorong, Cacalan, Seranit, Ancol, Boom hingga Pulau Santen. Selama ini saya juga sudah mengunjungi beberapa pantai yang lebih banyak dipakai untuk wisata, seperti pantai Brangsing, Watudodol, Blimbingsari, Trianggulasi, Pancur, Bedul, Plengkung, Pulau Merah, Grajakan dan Muncar.
Hampir semua pesisir pantai di wilayah Banyuwangi kondisinya kotor dan banyak sampah berserakan. Bahkan, di pesisir yang dekat dengan perkampungan, selain kotor juga tampak jorok dan kumuh. Sebuah pemandangan khas daerah pesisir yang sangat tidak sedap di pandang mata. Terkadang juga disertai dengan bau anyir alias tidak sedap. Kondisi seperti ini juga tak jauh berbeda dengan yang ada di daerah tetangga, Situbondo.
Bahkan, persoalan sampah yang merusak keindahan pantai juga melanda kawasan wisata internasional Pantai Kuta, Bali. Karena kurang pedulinya pemerintah setempat terhadap keberadaan sampah di Pantai Kuta, hingga majalah Time edisi 1 April lalu memuat berita berjudul Holidays in Hell: Bali’s Ongoing Woes. Tentu ini sebuah pukulan telak bagi pengelola pariwisata di Bali. Sebab, bisa merusak citra dunia pariwisata di sana, termasuk bisa mengurangi minat para wisatawan yang ingin berkunjung ke sana.
Banyaknya sampah di kawasan pesisir pantai ini juga menjadi problema sosial dan budaya bagi Banyuwangi yang memiliki garis pantai cukup panjang, yakni 175,8 km dan Situbondo yang juga memiliki garis pantai sekitar 150 km. Akankah selamanya kondisi di kawasan pesisir pantai yang kotor dan kumuh ini terus dibiarkan? Tidak adakah upaya untuk mengubah wajah kawasan pesisir yang kotor, jorok dan baunya tak sedap itu menjadi bersih berseri? Kapan ya angan-angan memiliki pantai atau lingkungan di kawasan pesisir yang indah dan bersih seperti di negara-negara benua Eropa, Amerika atau Australia itu bisa menjadi kenyataan di sini?
Sejatinya, segala sesuatu yang tidak baik itu bisa diubah menjadi baik senyampang ada niat dan upaya untuk memperbaikinya. Kita semua tentu punya angan-angan yang cukup muluk bisa melihat pesisir pantai kita tampak bersih, rapi dan indah di pandang mata. Lebih bersyukur lagi kalau tempat pemukiman yang ada di sekitar pesisir, lingkungannya juga tertata rapi, indah dan bersih. Termasuk, kondisi sungai-sungai yang mengalir ke laut juga terlihat bersih dan jernih airnya.
Untuk membersihkan sampah dari pantai dan mengubah wajah lingkungan pesisir yang kumuh memang tidak bisa langsung simsalabim seperti tukang sulap. Sebab, ini menyangkut budaya, kebiasaan, pola pikir dan kepedulian masyarakat yang belum bisa mengubah kesadaran dan prilaku hidup bersih. Karena itu, perlu dimulai dan dibiasakan.
Untuk memulai itu semua, diperlukan gerakan massal yang melibatkan segenap elemen masyarakat. Di antaranya melalui aksi bersih-bersih pantai, kawasan pesisir dan sungai. Yang dilibatkan tidak hanya warga masyarakat di sekitar pesisir, tapi semua elemen masyarakat diajak cancut tali wanda. Mulai dari pelajar, guru, TNI/Polri, anggota ormas, parpol, LSM, PNS, pegawai swasta, pedagang, pegawai kantor, aktivis peduli lingkungan dan lain sebagainya.
Selain menyumbang tenaga, diharapkan juga ada yang menyumbang konsumsi berupa air minum, snack, atau nasi bungkus. Termasuk menyumbang peralatan kebersihan, kantong sampah, alat transportasi untuk mengangkut massa maupun mengangkut sampah. Yang terkait dengan sumbangan non tenaga, kita berharap perusahaan-perusahaan peduli lingkungan bisa menyisihkan anggaran CSR-nya untuk gerakan mulia ini. Seperti perusahaan rokok, perbankan, telekomunikasi, semen, minyak, perkapalan, pelabuhan, perikanan, perkebunan dan lain sebagainya.
Meski ini acaranya warga, pemerintah tetap ikut mengoordinasi dan bertindak selaku leading sector kegiatan ini. Pemerintah melalui instansi terkaitnya juga harus mengeluarkan peralatan berat yang dimiliki untuk mempercepat kegiatan bersih-bersih. Termasuk, mengeruk endapan-endapan lumpur yang mengganggu aliran air dengan alat berat hingga membuang sampah yang sudah terkumpul di pantai ke tempat pembuangan sampah (TPS). Tugas lain pemerintah adalah menerbitkan perda yang mengatur batasan dan sanksi terhadap warga yang tidak mau diajak hidup tertib dan bersih, termasuk yang lalai membuang sampah sembarangan.
Ketika masih bertugas di Radar Mojokerto, institusi saya pernah mengadakan acara bersih-bersih kali Brantas yang didukung oleh Pemkab dan Pemkot Mojokerto serta Pemkab Jombang. Saat itu tak kurang dari 10 ribu warga yang berpartisipasi, sebagian besar berasal dari kalangan pelajar. Mereka tidak hanya berasal dari Mojokerto dan Jombang, tapi juga dari Sidoarjo dan Surabaya. Termasuk tiga kepala daerah juga hadir untuk menyemangati warganya yang terjun ikut bersih-bersih.
Sebagian besar instansi antusias mengirimkan anggotanya untuk menunjukkan kepedulian dan berpartisipasinya. Apalagi nama institusi mereka juga dipampangkan di media massa, baik yang menyumbang tenaga maupun kebutuhan terkait dengan agenda itu. Prinsipnya, menjalin kerbersamaan dengan tujuan mulia.
Melalui gerakan bersih-bersih massal seperti ini, diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap kebersihan dan pelestarian lingkungan. Termasuk juga meningkatkan partisipasi, solidaritas dan kebersamaan warga dalam membangun daerah. Sebab, kalau upaya membersihkan sampah dan sosialisasi penataan lingkungan hanya dilakukan oleh pemerintah sendiri, saya yakin akan membutuhkan waktu cukup lama serta anggaran yang besar.
Kalau memang agenda ini bisa dijadikan salah satu solusi untuk menata lingkungan pesisir pantai menjadi lebih bersih dan sehat, tidak ada salahnya untuk dicoba. ( Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )

