20
Apr
2011
Tiga Momen
Ditulis oleh udi
ANYUWANGI - Setiap orang punya momen. Menurut Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko, momen itu detik, ketika, atau saat. Berarti, momen bagi seseorang merupakan saat-saat yang penting dalam hidupnya. Peristiwa yang tidak bisa dilupakan. Momen yang dimiliki setiap orang tidak sama. Baik jenis maupun kuantitasnya. Bisa jadi, seseorang menganggap momen yang dimilikinya penting tapi tidak bagi orang lain. Jumlah momen yang dipunyai orang juga tidak sama. Ada yang hanya punya satu, tiga, lima, bahkan sampai puluhan.
Meski sudah melalui banyak peristiwa penting, tapi hanya tiga momen yang saya anggap penting dalam hidup saya –minimal sampai sekarang.
Saya menjalani karir jurnalistik dengan merangkak dari bawah. Menyingkirkan ratusan pesaing, menjalani masa percobaan yang ketat, kemudian diangkat menjadi karyawan tetap di Jawa Pos. Meski begitu, peristiwa pengangkatan jadi karyawan tetap itu tidak saya anggap sebagai sebuah momen penting. Pun, ketika saya dipercaya menjadi direktur di dua Radar, yakni Radar Jember dan Radar Banyuwangi.
Bagi saya, peristiwa kelahiran merupakan momen yang paling penting dalam hidup ---pasti Anda juga sependapat dengan saya. Sebab, itulah saat di mana kita mulai hadir di dunia. Saking pentingnya, setiap tahun orang mengadakan perayaan memeringati hari lahirnya. Maka, digelarlah pesta ulang tahun. Mulai yang sederhana sampai supermewah. Tapi tidak bagi saya. Hingga 40 tahun lebih menghirup oksigen secara gratis, belum sekalipun saya merayakan ulang tahun. Itu terjadi karena saya tidak yakin dengan tanggal dan bulan kelahiran saya. Maka, maaf, kalau ada yang mengucapkan selamat ulang tahun saya sering merasa geli sendiri, apalagi kepada mereka yang sampai mengirim kue dan bingkisan yang lain. Ha ha ha…
Kok bisa tidak yakin dengan tetenger kelahiran sendiri? Saya terlahir dari keluarga miskin. Bahkan, lebih pantas disebut miskin sekali. Saya masih ingat betul saat kecil dulu tidur di atas tikar. Tikar itu digelar atas lantai buatan Tuhan, yakni tanah. Biar malamnya terasa segar seperti ruangan ber-AC, setiap sore saya bertugas menyiram lantai tanah itu dengan air. Kalau lantainya saja masih dari tanah pasti Anda bisa menebak dinding rumah saya waktu kecil terbuat dari apa.
Untuk menyambung hidup keluarga, ibu saya berjualan rujak dari pagi sampai sore. Sedangkan bapak saya kerja srabutan. Tapi lebih sering berangkat sore pulang Subuh. Tampaknya dia lebih suka begadang dan wiridan di tengah laut memanggil ikan. Terbukti, pulangnya hampir selalu membawa beberapa ekor ikan laut. Itulah lauk termewah bagi keluarga kami. Untuk makan daging dan telur ayam, kami harus menunggu ada tetangga yang kendurenan (selamatan). Dalam hidup yang serba kurang, ibu dan bapak tidak sempat memikirkan sekolah anaknya. Waktunya hanya habis untuk memikirkan apa yang akan dimakan besok. Maka, mulai SD sampai kuliah saya mendaftar sendiri. Raport juga saya ambil sendiri. Data diri di raport dan ijazah juga saya isi sendiri. Satu-satunya isi data diri yang saya tanyakan kepada orang tua adalah tanggal lahir dan bulannya. Tapi, bapak dan ibu hanya menjawab, ‘’kamu lahir hari Sabtu pagi. Hanya itu yang kami ingat.’’ Parahnya lagi, mereka juga tidak mencatat momen penting saya itu. Karena harus segera dikumpulkan, maka saya isi data itu sesuai keinginan sendiri. Karena saat itu saya terkagum-kagum dengan kehebatan RA Kartini, maka saya pilih bulan April. Tanggalnya 7 karena seminggu ada tujuh hari. Tahunnya sesuai ancar-ancar dari bapak. ‘’kira-kira tahun 1970,’’ kata Bapak. Maka, tertulislah tanggal lahir (versi) saya: 7 April 1970. Data itu tertulis di identitas saya sampai sekarang.
Momen penting kedua bagi saya adalah saat pernikahan. Tapi, maaf karena alasan tertentu, tanggal-bulan-tahunnya tidak bisa saya tulis di sini. Yang pasti, peristiwa sakral itu saya rencanakan dan rancang sendiri. Tanpa melibatkan orang tua. Kalau sekolah sampai kerja saja bisa saya urus sendiri, kenapa pernikahan tidak. Orang tua saya sudah terlalu menderita untuk memikirkan hidupnya. Kasihan kalau masih harus dibebani dengan tetek bengek urusan pernikahan. Begitu pikir saya saat itu. Maka, saya persiapkan sendiri proses pernikahan itu. Saya bentuk panitia terdiri dari teman-teman wartawan di Gresik –kebetulan saat menikah saya bertugas di Gresik. Mereka bertugas menyebar undangan, menyiapkan tempat pesta resepsi, menyiapkan katering, sampai penerima tamu. Saat ijab qabul saya didampingi teman-teman wartawan. Saat duduk di pelaminan saya didampingi Kabag Humas Pemkab Gresik. Orang tua dan keluarga besar sengaja saya suruh tinggal di Banyuwangi saja. Tidak perlu repot-repot memikirkan biaya resepsi pernikahan. Saya bilang, semuanya dijamin beres. Benar juga. Gaji yang saya kumpulkan saat itu ikut beres. Habis untuk menggelar resepsi di salah satu hotel di Gresik. Tapi, saya bangga karena menjadi lelaki sejati. Wkwkwkwkwk…
Adapun momen ketiga yang tidak akan pernah saya lupakan sampai mati, adalah tanggal 14 April 2011. Ada apa gerangan dengan tanggal itu?
Setelah menghabiskan waktu 2,5 tahun yang sangat melelahkan, akhirnya proyek prestisius Jawa Pos di Saudi Arabia kini benar-benar terealisasi. Tepat tanggal 14 April 2011, koran Jawa Pos edisi Saudi Arabia (JP Arabic) resmi beredar di jazirah Arab. Rasanya benar-benar plong. Sebagai PO (Projec Officer) yang ditunjuk langsung oleh Pak Dahlan Iskan (ketika masih CEO Jawa Pos), selama 2,5 tahun saya mengalami beban mental. Bukan hanya menguras pikiran, tapi juga kocek. Tentu saja dari kocek sendiri. Sudah tidak terhitung berapa puluh juta tagihan pulsa yang saya habiskan untuk berkomunikasi dengan partner di Jeddah. Komunikasi intensif itu harus dilakukan karena memang ternyata tidak mudah menerbitkan koran di negara lain. Apalagi, di Saudi yang masih menerapkan ‘’sensor’’ ketat terhadap kehidupan pers. Kami harus merevisi beberapa kali kontrak kerja sama yang sudah dibuat. Setiap kali revisi harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan legalitas dari kementrian informasi dan budaya di negeri petro dolar itu. Saya jadi tahu bagaimana menjalin kerja sama bisnis dengan negara lain, terutama bisnis penerbitan.
Tapi, perjuangan belum selesai. Dalam enam bulan ke depan, JP Arabic harus lulus satu ujian lagi. Yakni, keajegan terbit. Tidak boleh hilang dari pasaran walau sehari pun. Jika lulus maka kementrian informasi dan budaya Saudi Arabia akan menerbitkan izin cetak jarak jauh di sana. Izin yang didamba-dambakan oleh kru JP Arabic itu bisa keluar tiga, empat atau maksimal enam bulan mendatang. Saya bertekad secepatnya memegang surat itu. Lebih cepat lebih baik.
Waduh, maaf maaf, saya terlalu narsis ya. Tidak ada maksud lain dari tulisan ini selain harapan bisa meng-inspirasi pembaca. Itupun kalau mau. Saya yakin, Anda punya lebih banyak momen yang lebih dahsyat dari tiga momen saya itu.
Abu-u laka bidzambi, faghfirli…( Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )

