Hutan Utang
Ditulis oleh UDI
RADAR BANYUWANGI Sadar atau tidak, kita ini tinggal di hutan utang. Ngutang sudah menjadi kebiasaan. Hidup bergelimang utang kini dianggap wajar. Maka, utang pun menjelma menjadi budaya baru.
Tengok saja. Pengusaha membangun imperium usahanya dengan modal pinjaman. Penguasa menjadikan utang sebagai mainan. Membangga-banggakan hasil pembangunan –fisik sampai kesejahteraan rakyat yang dimodali dengan dana utang. Celakanya, utang juga sudah mewabah di kalangan wong cilik. Mereka nekat berutang untuk memenuhi urusan perut dan kebutuhan mendasar rumah tangganya. Bahkan, banyak di antara rakyat kecil yang terjebak dalam lingkaran utang: gali lubang tutup lubang. Menutup utang dengan uang hasil utangan baru. Belum lagi mereka yang hidupnya diserap rentenir. Saban hari disibukkan membayar bunga tanpa bisa melunasi utang pokoknya.
Dalam kepungan utang seperti sekarang, bisa melunasi utang rasanya seperti sedang menikmati kemerdekaan kedua –setelah proklamasi. Kalau tidak percaya, silakan bayar semua utang Anda sekarang juga. Pasti, secara spontan mulut Anda akan memekik: MERDEKA!
Ternyata, hidup tanpa beban utang itu nikmat sekali. Tidur bisa nyenyak. Tanpa mimpi buruk. Hantu debt collector tidak pernah berkunjung lagi. Kita bisa menjalani hidup dengan santai, tanpa perasaan ada yang mengejar-kejar. Saat punya utang, kita sering mengalami halunisasi. Rasanya seperti ada yang mau nagih utang. Padahal, sejatinya tidak ada siapa-siapa. Maaf, jangan curiga kalau tulisan ini sebagai testimoni penulisnya lho, meski kenyataannya seperti itu, he he…
Berutang bagi perusahaan merupakan sesuatu yang wajar. Saat ini, nyaris tidak ada perusahaan yang tidak dibangun dengan dana talangan dari bank, atau pihak ketiga. Sebab, memang, butuh modal besar untuk mendirikan sebuah perusahaan. Tapi, perusahaan didirikan tidak dengan serta merta. Melainkan dengan perhitungan yang cermat. Misalnya, setiap tahun berapa
revenue yang akan dikumpulkan. Berapa biaya operasionalnya. Berapa biaya gaji untuk karyawannya. Berapa biaya tidak terduganya. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah capital return akan dicapai dalam berapa tahun. Pendek kata, semua sudah diperhitungkan dengan matang. Termasuk skala prioritas yang akan dicapai. Dengan begitu, tugas seorang pimpinan di perusahaan tidak lebih dan tidak kurang adalah mengamankan semua program yang dibuat untuk mencapai tujuan perusahaan tadi. Andai ia gagal, risikonya paling banter diberhentikan. Tidak ada risiko pribadi yang harus ditanggung. Misalnya, harus mengembalikan utang perusahaan. Utang perusahaan selamanya tetap menjadi utang perusahaan. Tugas pimpinan yang barulah mencari cara bagaimana cara menutupi utang itu.
Lain halnya dengan utang pribadi. Sebelum berutang seyogyanya kita bertanya pada diri sendiri dulu: apakah utang itu karena memuaskan nafsu atau memang sebuah kebutuhan. Utang yang dikendalikan nafsu misalnya, melihat tetangga membeli mobil baru, Anda langsung bertandang ke bank mengambil kredit mobil. Padahal, pertama, mobil Anda meski tidak tergolong baru lagi tapi masih sangat layak dinaiki. Kedua, kondisi keuangan Anda sudah besar pasak daripada tiang. Anda sudah punya beberapa tanggungan kredit, sementara pendapatan tidak tambah-tambah. Percayalah, meski menaiki mobil tidak terlalu bagus Anda lebih terhormat dibanding dengan orang yang naik BMW, Hummer, Mercedes terbaru, tapi dibeli dengan kredit. Apalagi, kalau mobil-mobil mewah itu dikasih cutting sticker bertulisan: MOBIL INI DIBELI DENGAN KREDIT. Sama halnya dengan orang yang tinggal di rumah magrong-magrong. Belum tentu, mereka bisa hidup se-tenteram kita yang hidup di gubuk, misalnya. Setidaknya, bagi yang hidup di gubuk tidak pernah dihantui pikiran setiap tanggal berapa harus membayar kredit rumahnya.
Wa ba’du. Saya jadi teringat pesan orang tua: kalau bisa jangan sampai berutang. Kalau menjadi pemimpin, jangan berutang janji kepada yang kau pimpin. Jalani hidup seadanya. Bekerja yang giat. Jangan lupa berdoa. Gusti Allah tidak tidur.
Abu-u laka didzambi, faghfirlii…(
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
)

