27
May
2011
Blambangan International Carnival
Ditulis oleh A. Choliq Baya
UWANGI - Berbagai upaya untuk memperkenalkan potensi Bumi Blambangan Banyuwangi ke dunia internasional terus dicoba dan dilakukan. Sebab, daerah ini memang sangat kaya akan potensi alam, aneka kuliner, seni dan budaya. Semua potensi yang ada itu kalau kita pandai mengemasnya, pasti bisa dijual ke para wisatawan, baik lokal maupun internasional. Imbasnya, nama Banyuwangi beserta potensi yang dimiliki akan semakin dikenal. Di samping itu, akan ada tambahan pemasukan dari sektor pariwisata yang bisa dipakai untuk membangun daerah ini agar lebih maju dan berkembang. Apalagi, saat ini Banyuwangi sudah memiliki bandara udara dengan armada pesawat yang bisa mengangkut 48 penumpang. Sehingga, cukup bisa diandalkan untuk menarik para wisatawan maupun investor yang berminat datang untuk menanam maupun membelanjakan uangnya di bumi berjuluk The Sun Rise of Java. Tinggal sekarang, potensi apa yang diharapkan bisa dikemas dan dijual untuk dijadikan pengungkit agar para wisatawan itu secara kontinyu datang ke Banyuwangi.
Inilah yang sekarang sedang digodok oleh Pemkab Banyuwangi bersama para stake holder, khususnya dari kalangan seniman dan budayawan. Salah satu upaya yang kini sedang disiapkan adalah membuat even berskala internasional. Even besar ini diharapkan bisa digelar secara berkesinambungan setiap tahun dan menjadi kalender wisata andalan. Diharapkan, even ini bisa menjadi ikon Banyuwangi sebagaimana yang dilakukan daerah lain. Seperti tetangga kita punya even spektakuler Jember Fashion Carnaval (JFC), Solo Batik Carnival (SBC), Tomohon Flower Festival (TFF), Jogja Java Carnival (JVC), dan lain sebagainya. Termasuk nantinya juga bisa menandingi even spektakuler di luar negeri seperti Pasadena Chalk Festival (PCF) di AS atau Modern Brazilian Carnival (MBC) di Brazil.
Untuk merintis even berkelas internasional itu, pekan kemarin Bupati Banyuwangi mengumpulkan para seniman dan budayawan di Pendopo kabupaten untuk dimintai masukan. Dalam forum itu juga dihadirkan Presiden Direktur JFC Dynand Mirza untuk memberi wawasan dan kiat-kiat jitu bagaimana mengeksplor seni budaya lokal menjadi tontonan menarik yang bisa memikat wisatawan untuk datang. Visualisasi even JFC yang sudah go international juga ditampilkan dengan harapan bisa memotivasi dan menginspirasi para seniman dan budayawan Banyuwangi agar bisa menciptakan even menarik berskala internasional.
Sayangnya, tanggapan dan masukan dari para seniman dan budayawan di forum itu banyak yang kurang nyambung. Harapan untuk memperoleh masukan yang bisa mewujudkan even berskala internasional tampaknya tidak bisa fokus. Yang lebih banyak muncul justru ego sektoral, merasa diri maupun kelompoknya paling mampu dan sudah berbuat banyak. Bahkan, forum itu juga dijadikan ajang untuk menghujat, merendahkan dan meremehkan kelompok lain yang sama-sama berkiprah untuk memajukan seni budaya di negeri ini. Termasuk juga kurang bisa menghargai karya spektakuler para seniman lain.
Kalau situasinya seperti ini terus berlanjut, saya tidak yakin bila mereka mampu diamanahi untuk mengelola event besar berskala internasional, yang muncul justru saling sikut dan lebih mengedepankan egonya. Karena itu, sudah saatnya para seniman dan budayawan yang biasanya dikenal sangat santun, saling bersatu dan tidak memelihara perpecahan maupun perseteruan. Mari kita tunjukkan karya nyata kita untuk negeri ini.
Selanjutnya, terkait dengan persiapan even berskala internasional yang diharapkan bisa dimulai tahun ini akan lebih efektif ditangani oleh tim kecil dengan dipandu oleh pentolan JFC yang sudah berpengalaman. Misalnya, memilah seni budaya apa saja yang bisa dikemas dan dijual untuk pasar internasional. Bagaimana cara mengemas dan menjualnya? Apa nama even yang bakal dijadikan ikon agenda wisata spektakuler Banyuwangi? Kapan waktu yang tepat untuk menggelar even itu? Dan bagaimana cara mengorganisirnya?
Mengenai nama dan waktu even, sudah ada beberapa usulan yang masuk. Diantaranya nama event harus mudah dikenal dan ngetren. Artinya, sedang banyak dipakai untuk nama even sejenis di beberapa negara. Akhirnya muncul nama Banyuwangi International Carnaval dan Blambangan International Carnival. Sedang untuk waktunya antara bulan September dan Oktober. Alasannya, menyangkut persiapan penyelenggaraan, waktu peak season wisman dan terlalu dekatnya dengan waktu even Festival Kuwung yang biasanya digelar pada puncak hari jadi Banyuwangi pada bulan Desember.
Mengenai seni budaya lokal apa yang bisa dieksplor dalam even itu, saat ini sedang didalami dan digodok oleh tim kecil. Yang jelas, tidak semua kekayaan seni Budaya Banyuwangi bisa dieksplor dan dijual di even besar nanti, sebab ada yang harus dikolaborasi dengan unsur lain agar layak dijual. Seni budaya yang tidak masuk di even ini tetap diakomodasi agar bisa tampil seperti biasa di ajang Festival Kuwung.
Kita semua berharap, agenda even berskala internasional bernuansa seni budaya asli Banyuwangi ini bisa terwujud mulai tahun ini. Tujuannya, bisa menarik para wisatawan dari dalam maupun luar negeri untuk datang ke Banyuwangi menyaksikan even besar ini. Multiplier effect lain yang diharapkan, para wisatawan itu juga bisa melihat potensi Banyuwangi yang lain. Diantaranya menikmati aneka wisata alam yang cukup eksotik seperti Gunung Ijen, Pantai Plengkung, Pantai Sukamade, aneka satwa langka di Alas Purwo, Baluran, Meru Betiri maupun tempat-tempat wisata yang lain.
Bila mereka terkesan dengan aneka suguhan yang ditampilkan di even besar maupun tempat-tempat wisata yang dikunjungi, berarti misi mengenalkan sekaligus mengangkat potensi daerah ini ke dunia luar berhasil. Sebab, dari sini mereka pasti akan bercerita tentang kepuasaan yang didapat dari mengunjungi Bumi Blambangan kepada para kerabatnya di luar negeri. Tentu ini sebuah promosi gratis yang cukup membantu mengenalkan Banyuwangi kepada dunia luar. Di samping itu para stake holder juga tak lupa tetap memromosikan aneka potensi Banyuwangi lewat berbagai cara dan berbagai media.
Karena even ini baru kali pertama digelar dengan persiapan waktu yang sangat pendek, tentu kita juga harus menyadari manakala nantinya masih banyak kekurangan. Termasuk masih belum bisa mendatangkan wisatawan yang maksimal, mengingat even ini sendiri baru diperkenalkan. Tapi, seiring dengan perjalanan waktu pasti akan banyak penyempurnaan, baik dari sisi pengorganisasian even maupun kreasi seni budaya yang ditampilkan.
Karena itu, pihak-pihak terkait yang peduli dengan kemajuan Banyuwangi hendaknya tidak tinggal diam. Terlebih lagi leading sector penggerak even yang ada di Pemkab Banyuwangi, yakni Dinas Pariwisata, harus lebih pro aktif melakukan terobosan dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Apakah itu dengan praktisi pariwisata seperti pemandu wisata, biro perjalanan, pemilik rumah makan, hotel, seniman, budayawan, media massa dan lain sebagainya. Semuanya diharapkan bisa memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan yang akan berkunjung ke Banyuwangi.
Semoga beberapa upaya yang telah dirintis untuk mengangkat potensi daerah ini ke level internasional bisa terwujud dan membawa manfaat bagi kemajuan Banyuwangi di masa depan. ( Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )

