Kamis, Februari 23, 2012
Baner
logo3 copy.png
12
Jul
2011

Mendorong Desa Melek Baca dan Melek IT

RADAR BANYUWANGI - hampir semua warga Banyuwangi tahu kalau daerahnya memiliki potensi alam yang luar biasa kaya. Mulai dari hasil pertanian, perkebunan, hutan, laut, hingga gunung yang di dalamnya ada kandungan emasnya. Tak hanya itu, alam Bumi Blambangan yang eksotik juga bisa dijual kepada para wisatawan. Potensi alam itu masih diperkaya lagi dengan aneka tradisi dan seni budaya yang tersebar di penjuru desa. Rasanya lengkap ‘’kekayaan’’ yang dimiliki daerah berjuluk The Sun Rise of Java ini.
Rasanya beruntung sekali saya bisa tinggal di Banyuwangi, meski hanya sebatas menjalankan tugas. Meski bukan penduduk asli Banyuwangi, saya ikut merasa bangga dan merasa ikut memiliki daerah di ujung timur pulau Jawa ini. Bahkan, pada beberapa kesempatan, saya juga tak sungkan-sungkan untuk ikut memromosikan daerah ini sebatas yang saya ketahui kepada para kolega. Terutama menyangkut potensi daerah ini dan peluang yang bisa dikembangkan sebagai bisnis menghasilkan.
Kebetulan saat ada tugas ke luar kota seperti ke Surabaya, Jakarta dan beberapa kota lain, saya masih sering bertemu dengan teman-teman atau mantan kolega ketika saya masih terjun di lapangan menjadi wartawan pada tahun 1995 sampai 2000. Karena pos tugas liputan saya selalu berputar di bidang politik, pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, pendidikan dan ekonomi, maka kolega saya banyak dari kalangan politisi, eksekutif, akademisi dan pengusaha. 
Saat bertemu para kolega dan kawan-kawan inilah saya bisa bercerita tentang potensi yang dimiliki Banyuwangi. Termasuk berpromosi agar mereka tertarik datang ke Banyuwangi sekaligus menjajaki peluang investasi di sini. Apalagi, transportasi menuju ke Banyuwangi sekarang bisa lebih cepat setelah beroperasinya lapter Rogojampi. Selain itu, untuk mengangkut hasil produksi dalam jumlah besar ke luar kota maupun luar negeri, juga sudah ada terminal pelabuhan peti kemas meski hingga sekarang belum beroperasi secara maksimal.
Ketika berpromosi soal potensi alam yang dimiliki Banyuwangi, saya tidak bisa menyampaikan data secara detail. Saya hanya bisa menggambarkan hasil alam asal Banyuwangi yang beberapa diantaranya konon merupakan penyuplai pasar terbesar di beberapa kota di Indonesia. Tentu semua itu sebatas yang saya ketahui . Misalnya hasil pertanian asal daerah ini yang cukup besar adalah kedelai, cabe dan padi. Hasil perkebunan ada kopi, kakao, manggis, pisang, kelapa dan durian. Hasil laut ada aneka ikan dan rumput laut yang merupakan hasil budi daya. Mungkin juga masih banyak lagi hasil alam Banyuwangi di luar yang saya ungkap di atas.
Sayangnya, hanya sebagian kecil saja asal wilayah penghasil komoditi unggulan di Banyuwangi yang saya tahu. Itupun dari cerita beberapa orang atau kawan, dari mulut ke mulut. Hingga kini saya belum pernah tahu data konkretnya. Sudah saya coba cari di situs resmi milik Pemkab Banyuwangi, tapi data-data itu tidak saya temukan juga. Seperti apa sebenarnya potensi konkret yang dimiliki Banyuwangi, tidak ada gambaran yang jelas dan rinci.
Misalnya, Banyuwangi dikatakan sebagai salah satu daerah penghasil kedelai terbesar di Indonesia, seberapa besar hasilnya dan di daerah mana saja adanya? Begitu pula dengan pisang dan manggis yang kabarnya sampai diekspor ke luar negeri, berapa besar hasilnya dan ada di daerah mana saja, saya juga kurang tahu pasti. Dan, masih banyak komoditi andalan lain yang mungkin orang Banyuwangi sendiri tidak banyak tahu, apalagi orang dari luar Banyuwangi.
Padahal, aneka hasil alam maupun produk unggulan Banyuwangi lainnya itu sangat penting dieksplor dan diekspos ke dunia luar untuk menarik investor datang ke sini. Pihak-pihak terkait, terutama yang ada di pemerintahan seharusnya lebih jeli dan memperhatikan hal-hal seperti ini kalau ingin Banyuwangi cepat berkembang. Termasuk juga mengangkat aneka potensi lain yang masih terpendam dan bisa ‘’dijual’’ agar lebih menghasilkan. Disinilah peran para aparat pengelola daerah, baik dari kalangan eksekutif maupun legislatif, dituntut kreativitas dan inovasinya.
Kalau para eksekutif dan legislatif hanya menjalankan tugas rutin sehari-hari yang bersifat normatif dan sudah terpola tanpa ada inovasi dan kreativitas, tentu perkembangan daerah ini hanya akan jalan di tempat. Karena itu, perlu ada gerakan untuk mendorong segenap pihak, terutama yang ada di pemerintahan untuk lebih peduli dalam mengeksplor dan mengekspos terhadap segala potensi yang dimiliki di wilayahnya. Termasuk, gebrakan-gebrakan yang sudah dilakukan agar juga bisa jadi motivasi bagi aparat pemerintah yang lain.
Karena segala potensi yang dimiliki daerah ini ada di desa, maka gerakan ‘’unjuk gigi’’ mengeksplor dan mengekspos juga harus dimulai dari desa. Apalagi, banyak potensi desa yang sebenarnya bisa ‘’dijual’’ lebih banyak tapi selama ini tak tergarap dengan maksimal. Salah satunya disebabkan oleh pola berfikir perangkat desa yang kurang peduli dengan keterbukaan dan kemajuan desanya. Termasuk kurang tanggap, enggan belajar dan tak mau memanfaatkan teknologi informasi (TI) untuk memajukan desanya.
Camat Bangorejo pernah memberitahu saya kalau salah satu desa di wilayah kekuasaannya punya komoditi unik, suwek. Yaitu, tanaman umbi-umbian khas lokal sejenis bentul yang biasanya disajikan jadi satu dengan jenis polo pendem lain sebagai hidangan tamu pada acara seremonial. Menariknya, hasil polo pendem yang sepertinya tidak terlalu berharga ini ternyata merupakan komoditi ekspor, kalau tidak salah dikirim ke negara Jepang atau Cina. Kalau hal ini dieksplor dan diekspos, pasti bisa memotivasi warga dan perangkat desa lain untuk berlomba-lomba memacu diri memajukan desanya.
Karena itu, perangkat desa harus didorong dan dibiasakan lebih terbuka dan proaktif dalam mempromosikan desanya agar bisa bersaing dan berkompetisi secara sehat dan penuh semangat. Mereka pasti akan senang manakala potensi yang ada di desanya bisa terekspos di media dan diketahui oleh masyarakat umum. Termasuk hasil-hasil pembangunan yang selama ini mereka lakukan bersama warga maupun aktivitas positif lainnya yang bisa menjadi inspirasi bagi desa lain untuk maju.
Untuk mengembangkan segala potensi, hasil pembangunan dan aktivitas positif yang ada di desa, Radar Banyuwangi mencoba memfasilitasi dengan membuka rubrik khusus yang diperuntukkan untuk mengangkat atau mengupas potensi yang ada di desa. Termasuk berupaya secara maksimal bisa mengedarkan koran hingga ke pelosok desa agar warga desa lebih ‘’cerdas’’ dan tidak ketinggalan informasi aktual. Tujuan lain, rubrik khusus itu juga bisa dijadikan alat komunikasi aparat pemerintah yang ada di tingkat dusun, desa, kecamatan, kabupaten dengan warga masyarakat.
Selain bertujuan agar warga dan perangkat desa lebih ‘’melek’’ baca, juga perlu dipacu supaya ‘’melek’’ TI. Apalagi, Pemkab Banyuwangi juga sudah mencanangkan program ‘’Cyber Village System’’ agar desa-desa yang ada di Banyuwangi bisa memanfaatkan TI. Baik untuk mengangkat dan memromosikan potensi yang ada di desanya maupun sebagai alat menjalin komunikasi dengan perangkat pemerintah lain dan dunia luar.
Semoga upaya ini bisa menggairahkan desa-desa di Bumi Blambangan untuk berkompetisi, berlomba-lomba memacu kemajuan dengan tujuan akhir bisa semakin menyejahterakan rakyatnya. ( Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )

Artikel Radar Banyuwangi

Radar Partner

Baner
Masuk
Mendaftar
Kontak
Login

Masuk



Register

Mendaftar

Question

Kontak