LELAKI JEPANG ITU SANGAT INDONESIA
Suatu siang seorang teman lama bercerita sebuah kabar gembira tentang cucunya yang bakal datang ke Indonesia saat natal . Cucunya bernama Akira , gadis kecil itu sengaja dibelikan tiket berdua dengan mamanya untuk pulang kampung nengok neneknya . Apa ... kata sang papa , ....” ma ... Akira harus sering – sering diajak ke Indonesia ... , biar dia mengenal bangsanya ....., dalam dirinyanya toh ada darah keturunanan Indonesia .... darah dari nenek moyangmu “. Mama Akira .... rasanya bagai menerima sebongkah gunung es .... , “ ah.... papa ini baik sekali ....”. pujinya kepada sang suami .
Sekali lagi , belajar dari pengalaman hidup keluarga teman saya ini .... kita mesti angkat topi kepada seorang lelaki jepang yang sangat Indonesia itu . Betapa tidak .... dalam sebuah perkawinan campuran seperti itu , betapa rasa ego kesukuan .... bisa dikemas begitu manis ..... , dengan bingkai kasih sayang seorang suami .... tentu sebuah keluarga dapat langgeng dan harmonis . Kita semua tahu ... , Jepang adalah sebuah negara yang masyarakat nya modern yang ke etnisannya bisa tetap solid .
Mari kita balik melihat Indonesia .... , betapa ego kesukuan ... ego daerahisme .... dapat mengancam keutuhan NKRI .
Dimana bingkai satu nusa , satu bangsa dan satu bahasa kita ...?
Pendidikan karakter seperti apa yang selama ini kita kunyah ...?
Jepang ....... sebuah negara yang konon super modern .... masih konsist menghargai kultur .
Adakah diantara kita yang ke “Indonesiaan” kita bisa lebih dari lelaki jepang tersebut pemahamannya .....? Ada diantara kita yang justru kehilangan “keindonesiaan” kita lantaran diserbu peradaban barat maupun timur .... , anak anak lebih suka Friedchicken ketimbang lontong balap . Ribuan ustad dan para da’i yang saat ini ada .... tak seorangpun yang mau tampil seperti Sunan Kalijaga ..... , kita malu mempertahankan kultur karena takut dicap tidak modern .
Apa yang dicari Akira dan mamanya ketika pulang ke Indonesia ?.
Kata sang nenek ...., sebuah daftar panjang makanan khas Indonesia .... mulai sego pecel ...sampai dawet cendol ..... , telah diangan angankannya ketika masih di jepang .
Sebuah kerinduan tentang Indonesia .... , akan mudah dirasakan oleh orang orang kita yang merantau , ketimbang kita yang tiap hari nguplek disini ...
Saling senggol sama lainnya bisa membuat kita berantem .... manamungkin akan tumbuh rasa sayang akan Indonesia , bahkan ironisnya yang terlanjur tidak suka akan negeri sendiri malah sering mencaci maki republiknya ....
Mamanya Akira yang Jepang itu ternyata masih tetap Indonesia .
GOOGLE, MEDIA SEARCH ENGINE TERLENGKAP DI DUNIA (SEBUAH REFLEKSI POSITIF DAN NEGATIF DARI GOOGLE)
Perkembangan dunia Teknologi Pencari pada era modern sangat pesat terutama pada perkembangan dunia internet. Hampir di seluruh bidang seperti bidang pendidikan, industri, usaha, dan lain-lain menggunakan sarana internet untuk keperluan dalam bekerja. Salah satu sarana internet yang paling sering digunakan oleh para pengguna internet di seluruh dunia adalah Search Engine atau mesin pencari informasi. Dengan teknologi pencari pengguna mendapatkan semua yang diinginkan, seperti berita, gambar, peta dan informasi lainnya. Kemudahan yang diperoleh dalam menggunakan teknologi pencari akan memberikan dampak positif maupun negatif bagi pengguna internet. Diperlukan sebuah kecermatan untuk menggunakan teknologi pencari karena kata kunci yang dimasukkan akan mempengaruhi hasil yang didapat. Selain itu pengguna internet dapat mencari informasi mengenai budaya, politik, ekonomi dan bidang sosial sebuah negara melalui search engine.
Dan salah satu search engine pada dunia internet ini adalah “ Google ”. Siapa yang tidak kenal dengan nama yang satu ini. semua orang di dunia ini pasti telah mengenal nama ini, search engine ini terlahir dari dua orang mahasiswa yang bernama Larry Page & Sergey Brin , mereka adalah mahasiswa di Stanford University. mereka menganalisa hubungan sebuah web dengan web yang lain, dan mereka berpikir untuk membuat search engine untuk dapat membuat hubungan yang relevan. Semua orang pasti mengenal nama ini, mulai dari anak kecil sampai dewasa pasti sudah mengenalnya. Benar, mayoritas semua orang itu sudah menganggap google itu informasi terlengkap di dunia. Saya akui sendiri, saya sendiri sekarang beranggapan bahwa google itu itu sangatlah pantas untuk dijadikan informasi terlengkap.
Lantas bagaimana cara mengaplikasikan google agar benar-benar menjadi bahan informasi positif bagi kita? mudahnya mencari informasi dengan hanya memasukan kata kunci atau inti dari informasi yang dibutuhkan, dengan adanya layanan google seperti Google Earth maka dapat membantu ahli geologi, maupun pengguna lainnya untuk dapat melihat lokasi yang dicari, dapat mencari informasi dan sekaligus gambar dengan cepat serta menambah pengetahuan. Memang, di zaman sekarang yang serba teknologi ini semua informasi yang kita cari itu rata-rata dari yang namanya google. Tidak heran bila google menjadi serch engine No. 1 di dunia. Betapa tidak, kita mencari hal-hal yang sulit di google pasti kta akan menemukannya. Tapi bagaimanapun keinginan kita, kita harus tahu etika dalam menggunakan teknologi. Dengan sikap yang kita punya, kita diharapkan bisa mengombinasikan IPTEK dan IMTAQ, dengan demikian kita dapat menjalankan dengan aman dan baik.
Tentunya itulah sisi positif dari Search Engine Google, yakni selalu siap memberikan informasi yang actual terhadap kita. Namun, google itu sendiri juga mempunyai sisi Negatif bagi kita. Contohnya kita membuka atau mencari hal-hal yang dilarang oleh agama. dimana isi dalam teknologi pencari itu tidak dibatasi oleh usia, jenis kelamin, yang terkadang dimanfaatkan orang untuk yang membuka situs pornografi yang tidak di saring yang akibatnya dapat di akses oleh semua orang, selain itu digunakan orang yang tidak bertanggung jawab dalam melakukan penyusupan ke dalam arsip-arsip dunia maya yang sifatnya rahasia, serta membuat sebagian orang misalnya pelajar yang kurang ter-motivasi untuk lebih berfikir dalam mengerjakan tugasnya karena bagi pelajar hampir semua bahan dengan mudah dapat dicari dalam Teknologi pencari. Dampak dari teknologi pencari di era digital sekarang ini bahwa peran perpustakaan sebagai tempat untuk membaca dan mencari informasi sudah jarang digunakan oleh para pelajar karena sudah banyak media online yaitu teknologi pencari untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Dapat dilihat dampak yang dirasakan dari teknologi pencari di mana pengguna harus lebih cerdas dalam memanfaatkan pencarian yang dibutuhkan, jangan menggunakan kekayaan informasi yang terdapat dalam teknologi pencari sebagai alat untuk sesuatu yang sifatnya negatif.
Hal tersebut sangat mencolok di ranah teknologi, sisi Negatif dari google itu sebaiknya dihindari untuk menjernihkan fikiran kita bukan sebaliknya penjernihan fikiran dengan melihat dan membuka situs-situs yang tidak mencerminkan kebaikan serta yang dapat merusak moral.
Disamping hal itu telah terjadi di kalangan anak muda yang merupakan kader bangsa, maka diharapkan kepada anak muda untuk selalu menggunakan mesin pencari (Google) dengan baik dan benar. Terlepas dari hal itu juga peran orang tua juga diharapkan untuk mengawasi secara penuh terhadap sikap dan perilaku anaknya dalam menggunakan teknologi
Maka dari itu, dengan kemajuan teknologi ini kita harus pandai-pandai menggunakan search engine (termasuk google) dengan baik dan benar tanpa ada fikiran kotor untuk menyalahgunakannya. Dengan demikian google ini akan dapat memberikan informasi actual, baik dan bermanfaat Negatif terhadap kita jika kita menggunakan dengan baik pula. Jikalau tidak, maka akan mendapatkan kerugian dan kemudhorotan bagi kita jika kita menyaahgunakannya. Fikirkan dirimu untuk merefleksi diri kita agar menjadi insan yang sempurna.
* Penulis Asal Pasir Putih Situbondo Peneliti Kajian Tafsir Hadits di Fak. Ushuludin IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Pendiri sekaligus Direktur Sanggar Sastra Ar Risalah di Pasir Putih Situbondo.
No. Handphone : 089682184758.
No. Rekening : 00064-01-61-000899-3 a/n Mahrus Sholeh di Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang IAIN Surabaya
Alamat Lengkap : Pon Pes Luhur Al-Husna, Jl. Jemur Wonosari Gg. Masjid No. 42 Surabaya.
Menangkap esensi Green and Clean
Kalau ngomong arti Green and Clean sebagian warga bimorejo sampai dusun terpencil irbach di alaspurwo sana pasti ada yang tahu , bahkan mungkin warga dusun gunungsari patok wesi sampai trianggulasi paham juga , kalau green itu hijau dan clean itu bersih . Tapi tahukah mereka kemana esensi “jargon” banyuwangi yang lagi ”in” ini digulirkan ?
Saya menaruh apresiasi kepada pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang saat ini menggelorakan semangat Green and Clean , mirip seperti jargonnya Kodya Surabaya yang sukses mengelola kebersihan sehingga mendapat penghargaan Adipura . Walau sama sama menggunakan jargon Green and Clean sejak 6 tahun yang lalu Kota Makasar sampai tahun 2011 pemerintahnya merasa tobat mengelola kebersihan , sehingga tahun 2011 ini belum berhasil mendapat penghargaan kebersihan .
Sudahkah kita punya konsep yang matang untuk Green and Clean ini ? Seperti apa ?
Mata rantai semboyan .
Sekedar flashback , kita warga banyuwangi pernah mengenal semboyan “ banyuwangi beriman dan berachmat , jenggirat tangi , Banyuwangi Ijo Royo – royo ( BIR ) dan yang terakhir Green and Clean “ , yang saya yakin itu adalah salah satu cermin prioritas pembangunan yang sedang digarap oleh pemerintah daerah saat ini . Saya tidak tahu apakah itu sebuah metamorfosa sebuah semboyan atau ada yang spesifik di masing – masing semboyan ? yang terang sampai saat ini “Sidoarjo tetap bersih hatinya” .
Getar Green and Clean di kampungku .
Di tingkat RW yang saya tahu pak lurah gencar sekali saat ini menginstruksikan kerja bakti masal . Ada dua hal yang saya tangkap dari perintah itu , mencoba menggalakkan kebersihan lingkungan dan membangkitkan kembali semangat gotong – royong yang belakangan ada tanda – tanda mengalami “degradasi” di masyarakat kita . Selebihnya belum tersentuh esensi Green and Clean itu gimana implementasinya di masing – masing lingkungan ? Pak Lurah , Pak RW dan Pak RT mendadak pening kepalanya kalau sudah ditunjuk untuk mewakili jadi peserta lomba Green and Clean . Kok Bisa ?
Gerakan Green and Clean .
Setelah di canangkan oleh Bupati Banyuwangi H. Abdullah Azwar Anas pada saat peringatan Hari Lingkungan Hidup , gerakan itu menyebar dan diserpon oleh Camat dan Kepala Desa / Kelurahan di seluruh Kabupaten Banyuwangi . Bagaimana respon dan gerakan ini di masyarakat ? Apa yang dilakukan masyarakat kita selain kerja bakti masal ?. Kita semua akan menjadi tahu apa yang dikerjakan masyarakat kalau mungkin radar banyuwangi menyediakan pojok khusus Green and Clean sebagai bagian expose masyarakat mengaktualisasikan kegiatan di lingkungannya .
Green and Clean bisa jadi disebuah tempat berbeda .
Desa Bumiharjo mungkin tidak begitu memprioritaskan gerakan penghijauan karena lingkungannya yang sudah hijau , tetapi bagaimana dengan Wirodayan yang padat itu harus merespon gerakan penghijauan ini ? Di Tegalarum sana mungkin orang tidak ribut mengelola sampah , tetapi bagaimana dengan Kempon yang dipinggiran kali Lo yang gerobak sampah tidak bisa masuk itu harus mengelola sampahnya ? intinya bisa jadi gerakan Green and Clean ini direspon berbeda oleh masyarakat di setiap lingkungan . Sudahkah ini “terpetakan” oleh pak lurah ? lingkungannya sudah berbuat apa dan sudah sampai tahapan mana ? Haruskah yang demikian didahului dengan sebuah radiogram ?
a. Kebersihan .
Bisa jadi sebuah rumah pada sebuah lingkungan cukup menggali tanah di pekarangan belakang dan mengubur sampahnya menjadi kompos , bisa jadi sebuah rumah telah memiliki keranjang sampah di depan rumah yang siap diangkut oleh petugas kebersihan , tetapi bisa jadi karena ngak ada petugas , pemilik rumah itu mengangkut sendiri sampahnya dengan tas kresek dan dibuang ke tempat sampah terdekat . Alhamdullilalh warga yang sadar demikian dan kebetulan ada tempat sampah , bagaimana kalau sampah tersebut dibuang ke sungai terdekat atau dibuang ke pekarangan kosong yang tidak bertuan ? Mungkin ada sebuah lingkungan yang telah mampu mengelola kebersihan lingkungannya dengan membayar seorang petugas kebersihan , atau mungkin ada sebuah lingkungan yang selangkah lebih maju yang justru telah mampu mengelola sampah lingkungannya untuk diolah menjadi kompos , bahkan mungkin ada yang telah menerapkan sistim pemilahan atau telah mendirikan “bank sampah” di lingkungannya ? Kualitas lingkungan dan kualitas masyarakatnya memungkinkan perbedaan implementasi dalam rangka menangkap makna Clean .
b. Penghijauan .
Perkampungan padat penduduk seperti Penataban, Mandar , Kampung Melayu atau Temenggungan mungkin bingung memilih alternatip penghijauan . Sebuah kawasan perumahan yang baru dibuka yang suasananya masih gersang dan berdebu barangkali butuh sekali pohon peneduh . Sebuah sekolah seperti SD Model atau SMP 4 Banyuwangi tentu berbeda gerakan yang bisa dilakukan dalam mensikapi perintah penghijauan . Artinya menafsirkan gerakan penghijauan di masing – masing tempat akan berbeda dalam mensikapinya . Akhirnya dari mana pemerintah bisa tahu bahwa gerakan green and clean ini telah direspon oleh masyarakat ? Bagaimana mengukur ada dan tidaknya peningkatan program ini dibanding dengan program – program sebelumnya ?
Tim Lomba Green and Clean lah yang bisa menjawab sejauh mana masyarakat telah hanyut oleh lagu merdu itu ?
Ngomomg tentang penghijauan kota , bahwa kondisi teduh kota kita saat ini adalah buah tangan generasi 10 - 20 tahun yang lalu , tantangan kita saat ini adalah melestarikan dan meningkatkannya Artinya membangun lingkungan tidak bisa dilakukan dalam waktu pendek , tetapi kalau merusaknya ….., ? gampang . Memotong pohon di jalan Yos Sudarso sangatlah gampang , apalagi argumennya pas , pelebaran jalan . Tetapi apakah pada tahun berikutnya kita konsen untuk menghijaukannya kembali ? Membiarkan pohon pohon dikepras dengan argumen mengganggu jaringan listrik , apakah ini sejalan dengan semangat green and clean ? . Membiarkan pohon – pohon “diramban” oleh para pemilik ternak , apakah ini sejalan dengan semangat green and clean . Siapakah yang harus mengawal agar pohon pohon itu tumbuh rindang ? Mengijinkan pohon penghijauan di depan POLRES ditebangi apakah ini juga sejalan dengan semangat Green and Clean ?
Gerakan Green and Clean akan tampak keberhasilannya manakala diikuti dengan instrument untuk mendorongnya sampai ke tingkat lingkungan , grafik kondisi dari tidak ada , sampai meningkat menjadi ada , dari yang sudah ada dijamin berlangsung keberadaannya dengan sistim pengelolaan , dari yang sudah ada berubah gradenya menjadi peningkatan pengelolaan . Kalau progresnya menunjukkan perubahan naik , maka itulah keberhasilan , sementara kalau progresnya stagnan artinya belum ada kemajuan tetapi Alhamdulillah masih bertahan itu namanya “pagun” , tetapi kalau progresnya menurun tinggal melihat apakah programnya yang kurang pas atau pelaksana programnya yang tidak becus , karena sama – sama menggunakan jargon Green and Clean , Surabaya berhasil tetapi Makasar menyatakan tobat .
Sekali lagi kualitas masyarakat dan kualitas para pemimpinnya menentukan berhasilnya sebuah program . Sebuah keberhasilan atau kegagalan bisa jadi sangat dipengaruhi oleh reward atau punisment . Sebuah kampung yang mendapatkan bendera hitam akan malu dan njengirat tangi ……
HARGA SEBUAH PROFESIONALISME
Insinyur muda itu baru saja pulang dari kegiatannya dilapangan . Keringatnya masih belum tuntas dan wajahnya “abang ireng” karena disengat terik matahari . Dimeja kerjanya tergeletak sebuah sketsa gambar , meteran , laptop kecilnya dan ia mulai menghitung . Seluruh kemampuan keilmuannya dicoba dituangkannya dalam bentuk design dan rencana anggaran biaya .
Bangga dia mampu menyumbangkan ide dan sainnya untuk tanah kelahirannya tercinta , tidak sia – sia dia mendulang ilmu di almamaternya tercinta selama empat tahun , profesionalismenya dipertaruhkan dengan idealisme yang masih menyala .
Saat itu datanglah padanya seorang abtenar muda , memperkenalkan diri . Dari ceritanya kelihatan dia seorang berduit dan kolega orang gedean . Singkat cerita , akhir perkenalan itu membisikkan bahwa proyek itu nanti miliknya . Tercengang ..... sang insyinyur muda itu .... , RAB belum jadi , proses lelang belum dilampaui , sebuah proyek dengan nilai milyaran sudah ada yang mengaku miliknya . Bahkan didepan matanya sang abtenar sudah bisa menghitung profitnya , sudah mengkalkulasi cost – cost “pengamannya” untuk bisa sampai ke P1. “Hebat ..... sebuah profesionalisme” , gumam sang insinyur muda itu .
Menatap langit – langit rumah kontrakkannya .... insyinyur muda itu merenung tentang profesionalisme . Ilmu yang ia miliki .... dedikasi yang ia curahkan ..... , berapa sih nilainya .... ? Aib rasanya ia berpikir tentang profit .... tetapi sebagai birokrasi dia tahu betul berapa gajinya ...., berapa insentip lemburnya .... berapa SPPD yang ia berhak menyerapnya ....., terpelanting rasanya ketika angka itu harus disandingkan dengan hitungan profit yang sudah ditunjukkan oleh abtenar muda itu.
Rasa bangga pada pekerjaan dan profesionalisme .... dilanda gulana . Betapa enaknya jadi orang gedean dan berduit ... , dengan “profesionalisme khusus“ sang abtenar mampu membeli sebuah sistim , mampu mendapatkan sebuah katebelece , mampu menentukan “harga dirinya” , sementara insinyur muda itu juga menghitung ...., mungkin delapan tahun lagi saya masih di kamar kontrakan ini ..... dan abtenar muda itu sudah beli lagi sebuah apartemen baru produknya agung sedayu.
Dering tilpun membuyarkan lamunannya .......” hei fian ....., ngapain kau masih di Indonesia ....” , tawa riang temannya terasa seperti masih dibangku kuliah . Rindu rasanya berkumpul kembali , adu ilmu , berdebat dan diskusi . Sayang dia sekarang jauh di Machachuset . Mereka berdua adalah lulusan terbaik almamaternya . yang satu mengikat kontrak dengan sebuah perusahaan asing ... yang satu lagi menjadikan diri sebagai abdi negara setelah menjual sepuluh pasang kebo emboknya .......
BelajarDari Kejujuran Jepang
Saat pertama kali memasuki gedung International Affair di Kurokami Kampus mata saya langsung tertuju ke sebuah etalase yang diletakkan persis menghadap ke pintu masuk gedung itu. Etalase berukuran 2 X 1 meter itu diletakkan disisi kanan tangga menuju lantai kedua . Tidak ada yang aneh kalau dipandang sepintas,namun saat kita semakin dekat,semakin banyak muncul tanda tanya.Apakah itu tempat menjual barang atau stand koperasi mahasiswa ya?.Mengingat beragam benda diletakkan disitu.Mulai dari barang yang remeh temeh sampai barang mahal.Mulai dari kaca rias minimalis sampai laptop dan I-Pad. Di etalase itu juga terdapat dompet,beberapa Hp dan payung.Ah mungkin itu barang bekas yang ditawarkan oleh pemiliknya.Namun,kok tidak ada harganya ya?.Tanyaku dalam hati sambil menaruh tanda tanya besar di tempurung otak besarku.
Di waktu lain, saat memasuki gedung central Library yang letaknya di sebelah kanan depan gedung International Affair aku juga mendapati hal yang sama. Pun demikian saat aku menuju ke salah satu ruangan di fakultas teknik untuk shalat jum’at,kami menemukan hal yang sama.Sepertinya di fakultas dan gedung lainnya yang tersebar kampus itu aku akan menemukan hal yang sama juga.
Pendidikan atau Penjara?
Setiap anak sejatinya memiliki mahaguru dalam dirinya sendiri. Hanya saja, seringkali mahaguru itu justru mati di tangan seorang sosok bernama guru. Demikian ujar romo mangun dalam menggambarkan kondisi pendidikan kita.
Artikel Lain...
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

